Teringat cerita dari kawan
Tertutur kata yang cukup membuat hati ini tertekan
Cukup serius ia menyampaikan
Pada hati yang sedang kasmaran
Terhadap orang yang dinantikan
Ternyata ia benar benar mengecewakan
Kurnia Rahmawati
Jumat, 05 Juni 2015
Kamis, 26 Maret 2015
Sepersekian Detik
Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya
mampu kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang cuma sanggup
kuhayati bayangannya dan tak akan kumiliki keutuhannya. Seseorang yang
hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata
sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi
isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan. Seseorang yang
selamanya harus dibiarkan berupa sebentuk punggung karena kalau sampai
ia berbalik niscaya hatiku hangus oleh cinta dan siksa
Kamis, 22 Januari 2015
Minggu, 02 November 2014
6 November
Aku bermimpi dirimu diriku akan bertemu
Di malam ini kau datang bawa bunga terindah
Oh pangeran dimana kamu, aku ingin ketemu
Yang aku ingin hanyalah dirimu
Hanyalah cintamu sayang kembalilah kepadaku
Jangan kau pergi, tunggulah sebentar saja
Kita kan bersama lagi seperti di saat kita satu
Dulu kau pernah pernah berjanji
Suatu saat kita akan kembali
Apakah kau akan menepati janjimu itu
Aku di sini menunggumu untuk menjemputku
Oh pangeran dimana kamu, aku ingin ketemu
Yang aku ingin hanyalah dirimu saja
Hanyalah cintamu sayang kembalilah kepadaku
Jangan kau pergi, tunggulah sebentar saja
Kita kan bersama lagi seperti di saat kita satu
Aku dan kamu bisa menjalin cinta kembali
Yang aku ingin hanyalah dirimu saja
Hanyalah cintamu sayang kembalilah kepadaku
Jangan kau pergi, tunggulah sebentar saja
Kita kan bersama lagi seperti di saat kita satu
Di malam ini kau datang bawa bunga terindah
Oh pangeran dimana kamu, aku ingin ketemu
Yang aku ingin hanyalah dirimu
Hanyalah cintamu sayang kembalilah kepadaku
Jangan kau pergi, tunggulah sebentar saja
Kita kan bersama lagi seperti di saat kita satu
Dulu kau pernah pernah berjanji
Suatu saat kita akan kembali
Apakah kau akan menepati janjimu itu
Aku di sini menunggumu untuk menjemputku
Oh pangeran dimana kamu, aku ingin ketemu
Yang aku ingin hanyalah dirimu saja
Hanyalah cintamu sayang kembalilah kepadaku
Jangan kau pergi, tunggulah sebentar saja
Kita kan bersama lagi seperti di saat kita satu
Aku dan kamu bisa menjalin cinta kembali
Yang aku ingin hanyalah dirimu saja
Hanyalah cintamu sayang kembalilah kepadaku
Jangan kau pergi, tunggulah sebentar saja
Kita kan bersama lagi seperti di saat kita satu
Jumat, 12 September 2014
Cintaku, Cintamu, Cinta Kita Bersama
Sekitar tiga tahun yang lalu, Aku, Syarif, dan Ofa dipertemukan dalam acara
MOS SMP waktu itu. Tak ada hari yang kita lalui
sedikitpun tanpa kebersamaan. Hari-hari sebagai remaja yang mulai tumbuh rasa
dalam hati. Rasa yang mungkin suatu saat berbuah indah atau sebaliknya. Dan Ofa
sadar, Ofa menyimpan harapan besar pada Syarif. Tentu saja Ofa tak ingin Aku
dan Syarif tahu tentang ini. Cukup Ofa saja yang tau.
Siang hari, saat jam istirahat kami bertiga berbincang
bersama-sama tentang masa depan kami bertiga nanti. Rencana masa depan untuk
melanjutkan study ke sekolah ternama di
negeri ini. Saat berbicara dengan Aku dan Syarif tampak begitu bersemangat. Apa
mungkin? Ah, tidak. Aku tidak mungkin juga punya rasa untuk Syarif. Perbincangan
pun berakhir dengan keputusan, Ofa harus berpisah dengan kami berdua untuk
melanjutkan study ke luar kota agak bisa lebih dekat dengan neneknya. Aku dan
Syarif piker, Ofa akan menghabiskan masa SMP nya hingga lulus. Namun, kami
berdua salah menduga. Ofa hanya satu tahun sekolah dengan kami. Kenaikkan kelas
8, Ofa sudah pindah dari sekolah kami. Ofa tidak tau saat itu Syarif menatapnya
dengan sangat terkejut, entah terkejut mengapa, mungkin Syarif berbikir kalau
kita akan segera berpisah.
Hari-hari terakhir adalah hari yang paling menyiksa bagi Ofa.
Ofa perlahan menyadari bahwa Aku menyimpan rasa juga untuk Syarif, meski Aku
tidak mengatakan pada Ofa. Ofa paham dari sikap Syarif padaku lebih dari
sekedar sahabat. Ofa bahkan tau bahwa Aku
tidak bisa mengungkapkan kebahagiaannya saat Aku bersama Syarif. Mungkin memang
Ofa yang harus mengalah. Mungkin juga dengan kepergian Ofa ini, Ofa bisa melupakan rasa ini.
Kenaikkan kelaspun tiba, ini saatnya Ofa harus take out dari
Purwokerto. Ofa dan ibunya bersiap-siap menuju stasiun. Stasiun masih sepi
siang itu. Ofa menyandarkan badan. Ada
yang terasa hilang saat Ofa akan pergi meninggalkan orang-orang yang Ofa cintai
di kota ini. Bagaimana jika nanti tak ada lagi Aku yang mengajaknya ngemil saat istirahat. Tak ada lagi guyonan Syarif
saat Ofa bersedih. Hm, semuanya akan berubah mulai hari ini. Ofa tak menyadari
bahwa Aku dan Syarif telah duduk di
sampingnya. Kami berdua datang ke stasiun untuk melihat yang mungkin kita akan
sulit bertemu lagi setelah perpisahan ini. Aku sebenarnya selalu merasa sedih
ketika mendengar kata "perpisahan". Walaupun aku sebenarnya tahu dan
sangat memahami bahwa setiap kali ada perjumpaan, pasti akan ada perpisahan.
Aku dan Syarif tesenyum sedih menatap Ofa “Maafin aku ya kalau ada salah.” Kata
Ofa. Aku memeluk Ofa.. kami menangis.
Entahlah, berat sekali meninggalkan kenangan yang ada. “Aku juga minta maaf,
ya.” “Syarif sudah bicara, maaf sebelumnya, aku tidak sengaja melihat buku tulismu
yang terdapat nama Syarif didalamnya saat beres-beres kemarin. Syarif membacanya,
dan aku juga sudah tau sebelumnya. Aku pun jujur padanya bahwa aku juga
menyukainya. Tapi dia lebih memilihmu, lalu bagaimana dengan mu?.” Aku
mengatakan yang telah terjadi pada Ofa.
Ofa menghela nafas. “Ah. Akhirnya rahasia itu terbongkar juga”
Ofa melihat mendung di wajahku, dan Ofa
melihat harapan di mata Syarif. “Aku tidak boleh salah ambil keputusan, Maaf,
kalau aku membuat kalian serba salah. Tapi aku sudah membuat keputusan. Aku
tidak akan pernah mau mengorbankan persahabatan kita hanya karena aku menyukai Syarif.
Lebih dari itu, aku harus bisa lebih dulu mencintai yang maha cinta sebelum
mencintai makhluknya yang dianugerahi rasa cinta.” Ucap Ofa sambil tersenyum.
Ofa tau, ada rasa kecewa di mata Syarif, tapi Ofa lega
melihat senyum di wajahku. Aku dan Ofa berpelukan menangis haru. Ofa kemudian mengucap salam perpisahan. Perlahan
namun pasti Ofa melangkahkan kaki menuju kereta yang sebentar lagi melaju. Ofa melambaikan
tangan pada kami. Aku tersenyum, Syarif tersenyum. Ofa memang tidak ingin
menyakiti hatiku hanya untuk menerima Syarif. Dan Ofa juga tidak mau persahabatannya
dengan Syarif retak karena ini. Dan Ofa rasa, ini adalah keputusan terbaik yang
telah Ofa lakukan.
Kamis, 17 Juli 2014
Langganan:
Postingan (Atom)
