Jumat, 05 Juni 2015

Peneror SMS!

Teringat cerita dari kawan
Tertutur kata yang cukup membuat hati ini tertekan
Cukup serius ia menyampaikan
Pada hati yang sedang kasmaran
Terhadap orang yang dinantikan
Ternyata ia benar benar mengecewakan

Kamis, 26 Maret 2015

Sepersekian Detik

Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya mampu kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang cuma sanggup kuhayati bayangannya dan tak akan kumiliki keutuhannya. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan. Seseorang yang selamanya harus dibiarkan berupa sebentuk punggung karena kalau sampai ia berbalik niscaya hatiku hangus oleh cinta dan siksa

Minggu, 02 November 2014

6 November

Aku bermimpi dirimu diriku akan bertemu
Di malam ini kau datang bawa bunga terindah
Oh pangeran dimana kamu, aku ingin ketemu

Yang aku ingin hanyalah dirimu
Hanyalah cintamu sayang kembalilah kepadaku
Jangan kau pergi, tunggulah sebentar saja
Kita kan bersama lagi seperti di saat kita satu

Dulu kau pernah pernah berjanji
Suatu saat kita akan kembali
Apakah kau akan menepati janjimu itu
Aku di sini menunggumu untuk menjemputku

Oh pangeran dimana kamu, aku ingin ketemu

Yang aku ingin hanyalah dirimu saja
Hanyalah cintamu sayang kembalilah kepadaku
Jangan kau pergi, tunggulah sebentar saja
Kita kan bersama lagi seperti di saat kita satu

Aku dan kamu bisa menjalin cinta kembali

Yang aku ingin hanyalah dirimu saja
Hanyalah cintamu sayang kembalilah kepadaku
Jangan kau pergi, tunggulah sebentar saja
Kita kan bersama lagi seperti di saat kita satu

Jumat, 12 September 2014

Cintaku, Cintamu, Cinta Kita Bersama


 
Sekitar tiga tahun yang lalu,  Aku, Syarif, dan Ofa dipertemukan dalam acara MOS  SMP  waktu itu. Tak ada hari yang kita lalui sedikitpun tanpa kebersamaan. Hari-hari sebagai remaja yang mulai tumbuh rasa dalam hati. Rasa yang mungkin suatu saat berbuah indah atau sebaliknya. Dan Ofa sadar, Ofa menyimpan harapan besar pada Syarif. Tentu saja Ofa tak ingin Aku dan Syarif tahu tentang ini. Cukup Ofa saja yang tau.
Siang hari, saat jam istirahat kami bertiga berbincang bersama-sama tentang masa depan kami bertiga nanti. Rencana masa depan untuk melanjutkan study ke sekolah  ternama di negeri ini. Saat berbicara dengan Aku dan Syarif tampak begitu bersemangat. Apa mungkin? Ah, tidak. Aku tidak mungkin juga punya rasa untuk Syarif. Perbincangan pun berakhir dengan keputusan, Ofa harus berpisah dengan kami berdua untuk melanjutkan study ke luar kota agak bisa lebih dekat dengan neneknya. Aku dan Syarif piker, Ofa akan menghabiskan masa SMP nya hingga lulus. Namun, kami berdua salah menduga. Ofa hanya satu tahun sekolah dengan kami. Kenaikkan kelas 8, Ofa sudah pindah dari sekolah kami. Ofa tidak tau saat itu Syarif menatapnya dengan sangat terkejut, entah terkejut mengapa, mungkin Syarif berbikir kalau kita akan segera berpisah.
Hari-hari terakhir adalah hari yang paling menyiksa bagi Ofa. Ofa perlahan menyadari bahwa Aku menyimpan rasa juga untuk Syarif, meski Aku tidak mengatakan pada Ofa. Ofa paham dari sikap Syarif padaku lebih dari sekedar sahabat. Ofa  bahkan tau bahwa Aku tidak bisa mengungkapkan kebahagiaannya saat Aku bersama Syarif. Mungkin memang Ofa yang harus mengalah. Mungkin juga dengan kepergian Ofa  ini, Ofa bisa melupakan rasa ini.
Kenaikkan kelaspun tiba, ini saatnya Ofa harus take out dari Purwokerto. Ofa dan ibunya bersiap-siap menuju stasiun. Stasiun masih sepi siang itu. Ofa  menyandarkan badan. Ada yang terasa hilang saat Ofa akan pergi meninggalkan orang-orang yang Ofa cintai di kota ini. Bagaimana jika nanti tak ada lagi Aku yang mengajaknya  ngemil saat istirahat. Tak ada lagi guyonan Syarif saat Ofa bersedih. Hm, semuanya akan berubah mulai hari ini. Ofa tak menyadari bahwa Aku dan Syarif  telah duduk di sampingnya. Kami berdua datang ke stasiun untuk melihat yang mungkin kita akan sulit bertemu lagi setelah perpisahan ini. Aku sebenarnya selalu merasa sedih ketika mendengar kata "perpisahan". Walaupun aku sebenarnya tahu dan sangat memahami bahwa setiap kali ada perjumpaan, pasti akan ada perpisahan.
Aku dan Syarif   tesenyum sedih menatap Ofa  “Maafin aku ya kalau ada salah.” Kata Ofa.  Aku memeluk Ofa.. kami menangis. Entahlah, berat sekali meninggalkan kenangan yang ada. “Aku juga minta maaf, ya.” “Syarif sudah bicara, maaf sebelumnya, aku tidak sengaja melihat buku tulismu yang terdapat nama Syarif didalamnya saat beres-beres kemarin. Syarif membacanya, dan aku juga sudah tau sebelumnya. Aku pun jujur padanya bahwa aku juga menyukainya. Tapi dia lebih memilihmu, lalu bagaimana dengan mu?.” Aku mengatakan yang telah terjadi pada Ofa.
Ofa menghela nafas. “Ah. Akhirnya rahasia itu terbongkar juga”  Ofa melihat mendung di wajahku, dan Ofa melihat harapan di mata Syarif. “Aku tidak boleh salah ambil keputusan, Maaf, kalau aku membuat kalian serba salah. Tapi aku sudah membuat keputusan. Aku tidak akan pernah mau mengorbankan persahabatan kita hanya karena aku menyukai Syarif. Lebih dari itu, aku harus bisa lebih dulu mencintai yang maha cinta sebelum mencintai makhluknya yang dianugerahi rasa cinta.” Ucap Ofa sambil tersenyum.
Ofa tau, ada rasa kecewa di mata Syarif, tapi Ofa lega melihat senyum di wajahku. Aku dan Ofa berpelukan menangis haru. Ofa  kemudian mengucap salam perpisahan. Perlahan namun pasti Ofa melangkahkan kaki menuju kereta  yang sebentar lagi melaju. Ofa melambaikan tangan pada kami. Aku tersenyum, Syarif tersenyum. Ofa memang tidak ingin menyakiti hatiku hanya untuk menerima Syarif. Dan Ofa juga tidak mau persahabatannya dengan Syarif retak karena ini. Dan Ofa rasa, ini adalah keputusan terbaik yang telah Ofa lakukan.