Minggu, 02 November 2014

6 November

Aku bermimpi dirimu diriku akan bertemu
Di malam ini kau datang bawa bunga terindah
Oh pangeran dimana kamu, aku ingin ketemu

Yang aku ingin hanyalah dirimu
Hanyalah cintamu sayang kembalilah kepadaku
Jangan kau pergi, tunggulah sebentar saja
Kita kan bersama lagi seperti di saat kita satu

Dulu kau pernah pernah berjanji
Suatu saat kita akan kembali
Apakah kau akan menepati janjimu itu
Aku di sini menunggumu untuk menjemputku

Oh pangeran dimana kamu, aku ingin ketemu

Yang aku ingin hanyalah dirimu saja
Hanyalah cintamu sayang kembalilah kepadaku
Jangan kau pergi, tunggulah sebentar saja
Kita kan bersama lagi seperti di saat kita satu

Aku dan kamu bisa menjalin cinta kembali

Yang aku ingin hanyalah dirimu saja
Hanyalah cintamu sayang kembalilah kepadaku
Jangan kau pergi, tunggulah sebentar saja
Kita kan bersama lagi seperti di saat kita satu

Jumat, 12 September 2014

Cintaku, Cintamu, Cinta Kita Bersama


 
Sekitar tiga tahun yang lalu,  Aku, Syarif, dan Ofa dipertemukan dalam acara MOS  SMP  waktu itu. Tak ada hari yang kita lalui sedikitpun tanpa kebersamaan. Hari-hari sebagai remaja yang mulai tumbuh rasa dalam hati. Rasa yang mungkin suatu saat berbuah indah atau sebaliknya. Dan Ofa sadar, Ofa menyimpan harapan besar pada Syarif. Tentu saja Ofa tak ingin Aku dan Syarif tahu tentang ini. Cukup Ofa saja yang tau.
Siang hari, saat jam istirahat kami bertiga berbincang bersama-sama tentang masa depan kami bertiga nanti. Rencana masa depan untuk melanjutkan study ke sekolah  ternama di negeri ini. Saat berbicara dengan Aku dan Syarif tampak begitu bersemangat. Apa mungkin? Ah, tidak. Aku tidak mungkin juga punya rasa untuk Syarif. Perbincangan pun berakhir dengan keputusan, Ofa harus berpisah dengan kami berdua untuk melanjutkan study ke luar kota agak bisa lebih dekat dengan neneknya. Aku dan Syarif piker, Ofa akan menghabiskan masa SMP nya hingga lulus. Namun, kami berdua salah menduga. Ofa hanya satu tahun sekolah dengan kami. Kenaikkan kelas 8, Ofa sudah pindah dari sekolah kami. Ofa tidak tau saat itu Syarif menatapnya dengan sangat terkejut, entah terkejut mengapa, mungkin Syarif berbikir kalau kita akan segera berpisah.
Hari-hari terakhir adalah hari yang paling menyiksa bagi Ofa. Ofa perlahan menyadari bahwa Aku menyimpan rasa juga untuk Syarif, meski Aku tidak mengatakan pada Ofa. Ofa paham dari sikap Syarif padaku lebih dari sekedar sahabat. Ofa  bahkan tau bahwa Aku tidak bisa mengungkapkan kebahagiaannya saat Aku bersama Syarif. Mungkin memang Ofa yang harus mengalah. Mungkin juga dengan kepergian Ofa  ini, Ofa bisa melupakan rasa ini.
Kenaikkan kelaspun tiba, ini saatnya Ofa harus take out dari Purwokerto. Ofa dan ibunya bersiap-siap menuju stasiun. Stasiun masih sepi siang itu. Ofa  menyandarkan badan. Ada yang terasa hilang saat Ofa akan pergi meninggalkan orang-orang yang Ofa cintai di kota ini. Bagaimana jika nanti tak ada lagi Aku yang mengajaknya  ngemil saat istirahat. Tak ada lagi guyonan Syarif saat Ofa bersedih. Hm, semuanya akan berubah mulai hari ini. Ofa tak menyadari bahwa Aku dan Syarif  telah duduk di sampingnya. Kami berdua datang ke stasiun untuk melihat yang mungkin kita akan sulit bertemu lagi setelah perpisahan ini. Aku sebenarnya selalu merasa sedih ketika mendengar kata "perpisahan". Walaupun aku sebenarnya tahu dan sangat memahami bahwa setiap kali ada perjumpaan, pasti akan ada perpisahan.
Aku dan Syarif   tesenyum sedih menatap Ofa  “Maafin aku ya kalau ada salah.” Kata Ofa.  Aku memeluk Ofa.. kami menangis. Entahlah, berat sekali meninggalkan kenangan yang ada. “Aku juga minta maaf, ya.” “Syarif sudah bicara, maaf sebelumnya, aku tidak sengaja melihat buku tulismu yang terdapat nama Syarif didalamnya saat beres-beres kemarin. Syarif membacanya, dan aku juga sudah tau sebelumnya. Aku pun jujur padanya bahwa aku juga menyukainya. Tapi dia lebih memilihmu, lalu bagaimana dengan mu?.” Aku mengatakan yang telah terjadi pada Ofa.
Ofa menghela nafas. “Ah. Akhirnya rahasia itu terbongkar juga”  Ofa melihat mendung di wajahku, dan Ofa melihat harapan di mata Syarif. “Aku tidak boleh salah ambil keputusan, Maaf, kalau aku membuat kalian serba salah. Tapi aku sudah membuat keputusan. Aku tidak akan pernah mau mengorbankan persahabatan kita hanya karena aku menyukai Syarif. Lebih dari itu, aku harus bisa lebih dulu mencintai yang maha cinta sebelum mencintai makhluknya yang dianugerahi rasa cinta.” Ucap Ofa sambil tersenyum.
Ofa tau, ada rasa kecewa di mata Syarif, tapi Ofa lega melihat senyum di wajahku. Aku dan Ofa berpelukan menangis haru. Ofa  kemudian mengucap salam perpisahan. Perlahan namun pasti Ofa melangkahkan kaki menuju kereta  yang sebentar lagi melaju. Ofa melambaikan tangan pada kami. Aku tersenyum, Syarif tersenyum. Ofa memang tidak ingin menyakiti hatiku hanya untuk menerima Syarif. Dan Ofa juga tidak mau persahabatannya dengan Syarif retak karena ini. Dan Ofa rasa, ini adalah keputusan terbaik yang telah Ofa lakukan.

Kamis, 22 Mei 2014

Vierratale - Tanpamu





Setahun kita sudah menjalani semua
Kau masih tak berubah
Keras tanpa bicara
Aku harus meninggalkan
Dirimu yang tak mungkin
Menjadi milikku lagi

Mungkin ini semua harus ku lalui
Mungkin ini semua harus ku jalani
Aku rela takkan berpaling
Kini aku akan menjalani hidupku tanpamu

Hidupku tanpa kamu
Memang tak ada rasanya
Tapi bagaimanapun juga aku harus bertahan
Aku harus meninggalkan
Dirimu yang tak mungkin
Menjadi milikku lagi

Kamis, 06 Februari 2014

Perkembangan Zaman

           Buku ini mengisahkan perjuangan wanita Indonesia dalam mencapai cita-citanya. Termasuk buku modern disaat sebagian besar masyarakat Indonesia masih dalam pemikiran lama (1936). Buku ini banyak memperkenalkan masalah wanita Indonesia dengan benturan-benturan budaya baru, menuju pemikiran modern. Hak-hak wanita, yang banyak disusung oleh budaya modern dengan kesadaran gender, banyak diungkapkan dalam buku ini dan menjadi sisi perjuangannya seperti berwawasan luas dan mandiri. Didalamnya juga banyak memperkenalkan masalah-masalah baru tentang benturan kebudayaan antara barat dan timur serta masalah agama.
           Adanya emansipasi wanita yang bermakna laki-laki dan wanita adalah sederajat. Sehingga wanita janganlah memikirkan dirinya sendiri tapi berjuang dalam masyarakat untuk kemajuan bangsa dan kaumnya.Segala sesuatu yang dilakukan tidak hanya menggunakan logika atau perasaan saja, tapi juga harus dengan perhitungan yang matang. Mimpi atau sesuatu yang maya perlu tapi janganlah membuat orang berhenti untuk berpikir, melainkan berpikir dan bertindak bagaimana hal yang maya menjadi nyata.
          Masalah yang datang harus dihadapi bukan dihindarkan dengan mecari pelarian. Seperti perkawinan yang digunakan untuk pelarian mencari perlindungan, belas kasihan dan pelarian dari rasa kesepian atau demi status budaya sosial. Kaum terpelajar janganlah bercita-cita menjadi pegawai dengan gaji besar dan duduk di belakang meja, melainkan harus turun juga ke lapangan dan menciptakan lapangan kerja.
      Para wanita di masa lalu adalah wanita yang mempunyai karakter yang lemah, tidak mandiri dan kolot, karakter ini akan terkikis karna peningkatan pendidikan wanita. Di novel Layar Terkembang ini diketahui bahwa memprediksikan di masa yang akan datang perempuan itu terdidik, kreatif, pekerja keras, inisiatif hidup mandiri seperti Jika wanita memiliki predikat wanita modern, maka harus memiliki tiga karakteristik yaitu: Kebebasan, kreatifitas dan kepercayaan diri, disamping menjadi wanita karir dia dapat melakukan tugas tanggung jawab publik dan domestik.
        Didalam buku tersebut menggambarkan kehidupan wanita di masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Para wanita Indonesia di masa yang akan datang tidak hanya memiliki tiga karakter yang disebutkan sebelumnya tetapi mereka juga dapat menyeimbangkan tugasnya sebagai wanita karir dan domestik.